Ubah insecure menjadi bersyukur adalah sebuah frasa sederhana untuk cukup menyadarkan seseorang. Sebelum tenggelam lebih dalam, sebenarnya, tahu ga sih, apa itu insecure?

Insecure adalah perasaan dimana kamu tidak bisa memandang dirimu dari segi positif. Apa yang kamu pikirkan tentang dirimu adalah kekurangan dan ketertinggalan yang kamu bandingkan dengan subyek lain. Jika sudah demikian, jangan bilang untuk bisa sukses, mencoba bangkit saja pasti susah.

Ubah Insecure menjadi Bersyukur
Gambar oleh Omegarion

Catatan. Tulisan ini adalah penafsiran sederhana dari Novel Mimpiku atau Mimpi Orang tuaku. Seluruhnya ditilik dari pengalaman sang penulis dalam merangkai ceritanya. Bagian yang menjadi perhatian adalah kisah bagaimana cara penulis menghadapi pelik dan krisis kepribadian.

Ubah Insecure menjadi Bersyukur

Insecure? Setelah diputarnya film imperfect atau mungkin telah membaca buku imperfect (Download novelnya di sini), kalian mungkin bisa menyadari, saya mungkin tidak mensyukuri apa yang telah kumiliki. Insecure juga bisa dikatakan perasaan dimana kamu tidak bisa merasa nyaman dengan apa adanya dirimu. Kurang ini, kurang itu. Padahal, sesungguhnya apa yang telah kita miliki sekarang adalah yang terbaik untuk diri kita.

Siang tadi, seorang teman direct message saya melalui whatsapp. Dia menceritakan berbagai masalah yang dia hadapi saat ini. Saat membacanya, seketika dalam hati saya, deg, (sesuatu yang dia alami pernah saya lalui).

Kamu ga bisa menjadi apa yang kamu inginkan? Kamu ga bisa masuk ke PTN yang kamu idamkan? Kamu merasa kurang bersyukur dan insecure dengan dirimu saat melihat teman-temanmu yang bisa lebih baik darimu? Kamu tidak bisa karena orang tuamu lebih memilih kamu bekerja daripada kuliah? Yah, kurang lebih pun saya juga sama.

Dari sini bawalah cermin di samping kamu!

Cara menghilangkan rasa insecure pada diri sendiri

Secara pribadi, mungkin saya juga setuju dengan pendapat orang tuanya mengingat juga temanku telah bekerja di suatu instansi yang menjanjikan. Dia bekerja di suatu rumah sakit yang ada di daerahnya. Siapa coba yang tidak sayang meninggalkan posisi itu untuk sesuatu yang belum tentu? Kenapa? Karena kuliah juga tidak menjamin mudah mendapat kerja apalagi menjamin kesuksesan. Temanku yang lain juga pernah men-scackmath kalimatku saat berkata, saya ingin kuliah disini, di jurusan ini. Kalimatnya sederhana: “You don’t need to go to college for success :p

Kurang lebih, apa yang dia katakan seperti menyelamatkan saya dari kebimbangan saya. Apa yang sebenarnya saya rasa kurang dari saya adalah pikiran saya. Kedangkala dalam menembus jauh ke masa depan yang justru memporak-porandakan diri saya. Inilah cabang baru insecureoverthinking.

Beberapa pengalaman yang kujumpai di platform para professional seringkali yang masih jobseeker juga mengeluhkan betapa susahnya mencari kerja di zaman digital yang telah mengglobal. Belum lagi jika saingan di tempat kerja nanti adalah jobseeker yang memiliki koneksi. Kesempatan yang semula tampak bersinar bisa saja kandas dalam-dalam.

Saya juga tidak menyalahkan temanku, karena siapa juga yang rela melepaskan mimpinya begitu saja. Sama sepertiku saat menghadapi masa-masa seperti itu. Kata-kata yang sering kali keluar adalah putus asa dan bawaanya hanya ingin menyerah. Yap, berulang kali saya telah mengalaminya. Nyesek? Sangat!

Penyebab Kamu Menjadi Insecure

Pernahkah berpikir kenapa bisa kamu menjadi insecure hingga mungkin berujung depresi? Tersangka utamanya ya, tentu saja dirimu sendiri. Penyebab rasa insecure muncul karena kamu terlalu membandingkan dirimu dengan keberhasilan orang lain. Sedangkan posisi kamu sendiri masih jauh berada di bawahnya. Itulah yang kamu pikirkan saat melihatnya.

Ada alasan mengapa orang tua mengarahkan kalian untuk menekuni atau mendalami suatu hal. Biasanya alasan itu alasan klasik, pemikiran dan idealisme orang tua kita yang memikirkan masa depan kita. Mereka tidak ingin hidup anaknya sia-sia, mengedepankan berbagai pertimbangan dimana kita bisa memiliki probabilitas sukses yang lebih besar. Apalagi cita-cita dengan prospek masa depan yang tidak jelas.

Sebagai contoh, saya suka menulis, saya pun ingin memasuki dunia sastra secara mendalam. Namun, orang tua saya lebih menyukai dan bahkan mengarahkan saya supaya tetap di kesehatan. Apakah yang harus saya lakukan?

Inilah yang sering dihadapi kita saat masa-masa akan memasuki jenjang kuliah. Menentukan prodi jurusan yang akan menjadi penentuan jalan masa depan yang akan kita jalani. Dari sini, inilah mengapa yang saya katakana, kamu harus bisa survive. Dengan kata lain, ingat kembali, tujuan kamu kuliah apa? Ingat pula, kuliah tidak menjamin kesuksesan. Jangan sampai kalian sudah susah payah kuliah, lulus semua ilmu ambyar begitu saja.

Hal ini juga saya alami, setelah lulus SMK, apa yang saya pelajari selama sekolah, saya tidak bisa mengingat kesemuanya. Mungkin hanya 37% saja yang masih ingat. Sisanya yang teringat adalah kenangan sekolah Bersama teman, pengalaman-pengalaman menantang di luar sekolah lah yang justru masih lekat di ingatan.

Sebagai permulaan, mungkin bisa untuk diam-diam dulu. Jangan koar-koar kamu akan kemana. Setidaknya, pendaftaran kuliah diberikan dua pilihan, bukan? Nah, hal ini jika kamu bingung dengan masalah kuliah.

Kamu bisa terus belajar untuk fokus belajar untuk ujian kuliah. Disamping kamu kuliah, kamu masih bisa bekerja sambilan atau freelance. Namun, tentu saja, kamu harus pintar-pintar memanajemen waktu kamu. Pastinya, sangat berat sob. Akan tetapi, jika kamu berhasil dan sudah terbiasa, ketika telah lulus, hal ini bisa menjadi nilai plus kamu dalam proses mencari pekerjaan.

Sebenarnya, jika dipikirkan kembali, keinginan orang tua kamu sederhana bukan, kamu bekerja. Nah, dari situ, coba aja metode yang kusarankan tadi. Ketika kamu berhasil dengan ujian masuk kuliah, kamu bisa berhasil apply kerja, orang tua akan menentang lagi tidak?

Dari sini, kupikir untuk orang tua bijak tidak akan memaksakan kehendaknya yang jika sampai lebih dari ini, maka mereka memilih ego mereka daripada kesuksesan kita sebagai anak. Maka tugasmu selanjutnya adalah menjelaskan sebaik-baiknya tujuan dan keinginanmu. Jika masih tidak, maka jangan ragu untuk nekad! 😊 Tapi, jangan sampai menyakiti orang tua. Perlihatkan kamu mampu, dan luluhkanlah hati orang tuamu dengan bukti nyata, bukan omongan semata.

Pertanyaannya? Susah loh bekerja sambil kuliah. Namun, bukan berarti tidak bisa.

Wkwkwk, bagaimana kamu bisa menentukan harganya itu sulit atau tidak kalau kamu belum menjalaninya.

Saya punya beberapa wawasan kaitan antara yang hanya kuliah saja dan anak yang kuliah sambil kerja. Percaya deh, anak yang terbiasa multitasking akan memiliki nilai plus di mata recruiter perusahaan. Dan di bagian saya ada penyesalan saat menjalani tahap interview di PT Phapros saat ditanyakan tentang kebiasaan multitasking. Kujawab seadanya dan saya baru menyadari kalau selama ini saya sudah terbiasa multitasking. Namun, disana kujawab, saya lebih bisa mengerjakan satu tugas sampai selesai lalu berlanjut pada tugas lain. Hm, penyesalanku karena pada kenyataannya tidak selalu begitu.

Saya tidak menyadari kalau saya selama ini multitasking setelah kupikirkan dan beberapa pengingat lain. Mulai dari sekolah, mondok yang juga diprogram tahfidz, kaderisasi, aktivitas komunitas dan organisasi dalam satu waktu. Selain pekerjaan yang harus diselesaikan multitasking, manajemen waktu juga menjadi nilai tambah. Dan sayangnya saya baru menyadarinya. Inilah yang aneh, nilai plus diri kamu tidak bisa kamu sadari, sedangkan keburukan yang kamu pikirkan begitu mudah merasuk dalam pikiran kamu. Yah, lupa diri, deh.

Namun, tidak apa, selalu ada pengalaman di dalamnya untuk bisa lebih baik ke depannya.

Jadi, sulit tidak? Rasakan dulu baru berpikiran dan berpendapat. Jangan pernah mendahulukan pikiran ini sulit, itu sulit, sebelum kamu benar-benar melakukannya. Kalau overthinking, malah susah, wkwkw.

Baca Juga: Cara Menghadapi Lingkungan Kerja yang Toxic

Lalu bagaimana cara menghilangkan insecure pada diri sendiri

Cara terbaik adalah dengan berhenti membandingkan diri kita dengan keberhasilan orang lain. Jalan sukses orang itu berbeda-beda. Jangan terlalu memaksakan jalan yang sebenarnya tidak kamu kuasai. Lebih baik konsisten dengan kelebihan yang kamu miliki. Kesuksesan akan datang seiring kamu tekun mengasah kemampuan dan teguh berjuang dengan mimpimu.

Lalu, untuk seseorang yang bermasalah dengan idealisme yang berbeda dari orang tuanya, sepertiku dan temanku, yang kupikirkan hanya mengambil jalan tengahnya. Bukan menentang orang tua apalagi sampai merelakan mimpi kita ☹. No way! Bukan itu pula. Melepas tidak menyelesaikan masalah, meraih keduanya juga nyesek di hati kita. Apalagi orang tua berharap lebih, sedangkan kita sendiri memiliki pikiran: batasanku hanya bisa sampai di sini. Yah, bisa-bisa kita lupa akan diri sendiri.

Selain itu, pernah baca buku Menyemai Impian Meraih Sukses Mulia karya Jamil Azzaini? Jika belum, kamu bisa membaca beberasa review nya di sini. Ada ebook yang bisa juga kamu baca online. Kisah yang kita alami sekarang tidak lebih seperti cerita Gajah terantai dalam buku Azzaini. Yap, secuil kisah yang menyadarkan diri saya, mengapa saya bisa insecure dengan diri saya?

Meskipun jatuh bangun, melepaskan mimpi kita begitu saja setelah jalan terjal yang kita lalui, mimpi-mimpi itu terlalu berharga untuk dilupakan begitu saja. Saya sendiri juga tidak akan rela melepaskan mimpi itu. Namun, apa yang bisa dikata, semua tidak semudah kata-kata penyemangat dalam buku-buku motivasi pengembangan diri.

Saya pernah mendapat wejangan dari seseorang. Yang selalu saya ingat dalam berbagai diskusi dan beberapa diantaranya saya noted dalam buku catatan supaya tidak lupa. Kurang lebih seperti berikut:

Jika itu sesuatu yang kau putuskan sendiri, kau tidak akan menyesal untuk itu. Itulah yang dinamakan harga diri.

Dia bilang, “Kalau saya gagal mencapai mimpi saya, saya tidak berpikir untuk menyesal. Apa yang membuat saya menyesal adalah tidak mengejar mimpi itu. Sebelum saya habiskan hari-hari mengejar mimpi itu, saya membiarkan hari-hari hanya berlalu begitu saja. Tapi sekarang, tiap-tiap hari mempunyai arti dan makna. Saya hidup dengan apa yang saya dapat.”

Dari sini, kamu bisa mulai bercermin, apa yang sebenarnya saya inginkan? Jika saya kuliah di X itu karena alasan apa? Apakah saya bisa survive di dalamnya?

Penting! Jangan Memandang rendah diri sendiri, jika masih demikian, kamu wajib membaca artikel Gajah Terantai!

Menyikapi Mimpi yang Kamu Pikir Tidak Sejalan

Temanku berkata bahwa dia melihatku sebagai orang yang bersyukur ‘banget’. Sontak saja ada perasaan tergelitik dalam hatiku. Yah, setiap manusia tidak se-perfect itu. Adakalanya juga saya ingin putus asa. Ketika perasaan itu datang, rasa tidak menghargai diri selalui membuntuti. Pasti sudah, itu kodrat alamiah. Tidak bisa dibuang begitu saja.

Sekedar sharing saja, saya pernah berada di titik terendah dalam hidup dimana diri kita berpikiran untuk tidak ingin melakukan apa-apa. Perasaan itu muncul karena suatu hal yang menganga dalam hati kita tidak bisa memenuhinya. Ada sesuatu yang kita inginkan namun bertolak belakang. Kita ingin meraih mimpi tetapi kegagalan selalu menghantui. Yap, itu memang selalu menjadi teman akrab ketika kita berkeinginan meraih kesuksesan lebih besar. Ingat, selalu ada tahap untuk mengemban tanggungjawab. Dan itu perlahan, tidak bisa instan.

Cobalah kamu untuk belajar memahami diri kamu. Setiap pagi, di depan kaca, cobalah tersenyum, katakan ke diri kamu: “Terima kasih, telah kuat menjalani semua yang terasa berat. Kamu hebat!”

Temanku berkata, “Saya ingin bersyukur tapi bertolak terus.”

Kupikir, itu ada ketika kamu masih belum bisa lebih dekat pada tuhanmu. Nah, coba deh, kamu intropeksi diri lagi, selama ini, seberapa dekat kamu dengan Tuhanmu. Di hatimu, adakah perasaan kamu ingin membahagiakan Tuhanmu? Bukan diri kamu, -untuk saat ini-

Itu penting, kenapa? Rasa syukur memang seutuhnya tumbuh dari rasa pasrah yang kita tambatkan pada Tuhan kita. Yang kita miliki saat ini, itulah yang kita hadapi dan kita nikmati. Apa yang ada di masa depan itu rahasia Tuhan. Tidak perlu mengulik-ulik pikiran untuk menentukan masa depan dari ilusi pikiran yang kita ciptakan. Itu sia-sia, rencana Tuhan bisa saja berbeda.

Lakukan yang terbaik saat ini, yang paling mampu kita hadapi, urusan hasil, masa depan, itu Tuhan yang menentukan. Analoginya, Lakukan dan Lupakan :p.

Ingat, rasa syukur bukan diciptakan, tetapi rasa syukur ada ketika kamu ‘sadar’.

Sadar yang bagaimana?

Sederhananya, kamu pasti sering mendengar syukuri apa yang telah kita miliki, bukan hanya mengejar sesuatu yang belum kita miliki. Yap, itu gambaran kasarnya. Jika ingin bersyukur, kunci utamanya hanya kamu bisa sadar dengan dirimu.

Hal itu berkesinambungan dengan perasaan insecure. Ingat, insecure muncul karena rasa kurang syukur. Namun, ada hal lain yang juga penting: Berkaca dengan dirimu.

Kenapa kamu merasa insecure dengan dirimu. Hal paling sering dijumpai karena kamu terlalu fokus pada kekuranganmu dan bukan pada kelebihanmu. Kamu terlalu fokus pada permasalahan dan hambatan dan bukannya mencari solusi penyelesaian. Bukan bergerak untuk memintal impian, tetapi stuck di posisi dan dinding besar menghadang jalan kalian. Ahh, basi!

Sekarang, tulislah pujian untuk dirimu, berilah penghargaan terhadap dirimu sendiri. Mulai sekarang percayalah pada kemampuan dirimu sendiri. Hal yang kamu syukuri itu, nantinya pasti akan menjadikan dirimu menjadi seseorang yang berharga. Jika kamu bingung, kuberikan contohnya.

Coba deh, katakan ke diri kamu: “Saya bangga di tahun 2019 saya berhasil mendapatkan gaji pertama saya, dan saya menyisihkan untuk ibuku, senyum ibuku berarti bagiku.”

Contoh dua: “Untuk diriku, terima kasih sudah tangguh dan tidak menyerah, akhirnya di tahun 2019 ini saya berhasil menyelesaikan studiku.”

Banggalah dengan dirimu, dengan kemampuan dan kelebihanmu. Kekurangan memang selalu menyertai, tetapi jangan sampai membuat hal itu sebagai pembatas diri. Cobalah untuk lebih eksplorasi diri. Kamu itu diciptakan oleh Tuhan dengan tujuan, dengan kelebihan, juga dengan kekurangan. Kenapa? Ya buat apa lagi kalau bukan untuk mensyukuri semua yang telah Tuhan beri, bukan?

Hikmahnya

Seseorang pernah mengatakan pada saya, saya memperjuangkan mimpiku karena kemauanku sendiri. Mimpi tidak akan terwujud karena seseorang berkata begitu. Kau harus membuat mimpimu sendiri menjadi kenyataan.

“Keraskan dirimu, maka dunia akan lembut padamu. Jika kamu melembutkan dirimu, maka dunia akan keras padamu!”

Jangan sampai kalian terpaku dan stuck hanya karena pemikiran yang kalian ciptakan sendiri. Penting untuk diingat, musuh sebenarnya dalam kehidupan ini bukan orang lain, melainkan diri dan pikiran kalian sendiri.