Membangun Ketahanan Mental Anak – Gambar di atas adalah sebuah surat terakhir seorang anak yang akan bunuh diri. Di usianya yang masih muda, ia tidak memiliki pemikiran lain yang lebih baik untuk mengatasi masalah. Apakah yang menyebabkan anak-anak sepertinya melakukan hal nekat seperti itu? Salah satu alasannya adalah karena kemampuan yang dimilikinya untuk menghadapi masalah berada dalam ambang over. Menghadapi luka batin dan penyakit psikologis yang dideritanya sudah berada diluar kemampuannya. Ditambah orang-orang di sekitarnya tidak memperhatikan atau mencoba untuk membantunya. Serta kemungkinan lain, ada pergulatan kepribadian dalam dirinya dari suatu peristiwa yang membuatnya tertekan hingga depresi. Akhirnya, yang terjadi adalah bunuh diri sebagai bentuk pelarian.

Hal tersebut sudah bisa dikatakan sebagai bentuk akibat dari trauma. Dan untuk mencegahnya, dibutuhkan ketahanan mental anak untuk memberikan pondasi kemampuan menghadapi pengalaman pahit. Membangun ketahanan mental anak bukanlah perkara mudah. Ditambah apabila anak pernah mengalami trauma psikohisteris selama masa kecilnya. Anak-anak yang pernah mengalami peristiwa traumatis berada dalam resiko signifikan dalam jangka panjang di berbagai perkembangan. Terutama yang menjadi sorotan adalah perkembangan mentalnya.

Namun, anak-anak jauh lebih mungkin untuk menunjukkan ketahanan terhadap trauma masa kanak-kanak ketika program, institusi, dan sistem pelayanan anak memahami dampak trauma masa kanak-kanak. Berbagi cara umum untuk berbicara dan memikirkan trauma, dan mengintegrasikan secara menyeluruh praktik dan kebijakan yang efektif untuk mengatasinya — suatu pendekatan yang sering disebut sebagai trauma-informed care (TIC).

TIC telah menjadi topik penelitian umum yang diangkat oleh Badan Kesehatan Mental Amerika Serikat dan telah disahkan. Perawatan untuk mendukung anak-anak bangkit dari masa traumatis mereka sebenarnya tidak hanya dengan metode ini. Namun, perawatan yang berbasis fakta memiliki nilai kecenderungan berhasil lebih besar dibanding menggunakan metode lain. Inilah fokus dalam pendekatan traumatis anak dengan TIC yang dapat memainkan peran penting dalam penyembuhan masa traumatis anak.

Berikut ini disajikan cara membangun ketahanan mental anak dari traumatis yang dialami dengan metode TIC. Berdasarkan hasil penelitian yang saya baca, cara ini cukup efektif.

Tipe Umum Trauma Anak-Anak

Trauma anak-anak terjadi karena mereka mengalami peristiwa yang tidak menyenangkan serta menyakitkan untuk diingat oleh mereka. Keadaan yang tidak mendukung bagi mereka untuk menghadapinya sehingga mengakibatkan traumatis bahkan krisis kepribadian. Hal itu terjadi karena rasa sakit emosional dan berada diluar kemampuan anak untuk mengatasinya. Bentuk trauma yang keluar sebagai akibat dari peristiwa menyakitkan tersebut bisa muncul karena berbagai sebab dan output.

Cara Mengatasi Trauma Anak
Jenis Trauma Anak

Trauma anak rentan terjadi pada saat anak masih muda. Anak di bawah umur tiga tahun rentan mengalami penelantaran dan pengabaian. Di Amerika Serikat contohnya, setidaknya anak-anak di sana mengalami salah satu dari jenis trauma sebelum ulang tahun mereka yang ke-8. Di Indonesia sendiri, yang paling memungkinkan karena tuntutan pendidikan, perbedaan ekonomi yang masih dapat dijumpai di lingkungan elit, serta forsiran dari orang tua yang menginginkan anak menjadi seseorang sukses seperti yang diidamkannya. Namun, dalam diri anak hal tersebut dapat menjadi sebuah lubang yang menyakitkan karena jalan yang mereka lalui sama saja seperti membuat hidup tidak berarti.

Trauma bisa muncul dari mana saja! Kepribadian yang dimiliki anak adalah sebuah cermin kehidupan yang selama ini dilalui oleh mereka.

Kasus yang sering dijumpai adalah pelecehan seksual anak di bawah umur, pertengkaran orang tua yang disaksikan langsung oleh anak-anak, serta cedera karena beberapa faktor bisa menjadi penyebabnya. Peristiwa tersebut tentunya akan meninggalkan kenangan pahit dalam ingatan mereka yang sangat tidak ingin diingat oleh mereka. Bahkan, dalam umur mereka yang masih muda, bisa saja depresi sebab untuk menghadapinya berada di luar kemampuannya. Apabila orang-orang di sekitarnya, lembaga, atau instansi tidak memerhatikan hal ini, maka yang terjadi adalah krisis kepribadian, rasa mengasingkan diri karena tidak mempercayai orang-orang di sekitarnya, atau bahkan keinginan bunuh diri.

Bentuk trauma lain yang juga umum saya jumpai adalah bagaimana orang terbiasa memandang orang lain berbeda hanya karena perbedaan yang mereka miliki. Istilah umum yang menjadi postulat dalam ilmu sosial adalah labeling. Misal, orang-orang memberikan julukan atau mungkin hanya memandang seseorang A berkepribadian tertutup, seseorang B berkepribadian yang mirip perempuan padahal dia laki-laki. Maka, tanpa sadar mungkin A dan B telah mengafektifkan kepribadian tersebut dalam dirinya karena dikte yang diberikan masyarakat menjadi sebuah kepribadian.

Maka, dalam hal ini, siapakah yang sebenarnya salah?

Dampak Trauma Masa Kecil

Trauma masa kecil pada anak-anak berdampak pada kehidupan dan kepribadian mereka seumur hidup. Dampak paling signifikan adalah pada perkembangan kognitif, perkembangan otak, pembelajaran, perkembangan sosial-emosional, kemampuan untuk mengembangkan keterikatan yang aman dengan orang lain, dan kesehatan fisik; itu juga terkait dengan umur yang lebih pendek.

Kamu menjumpai seseorang yang memiliki rasa waspada dan ketidakpercayaan untuk menjalin hubungan dengan orang lain. Jangan salahkan dia. Apa yang menjadi keribadiannya adalah bentuk kehidupan yang selama ini ia alami. Ada kemungkinan ia pernah mengalami pengalaman pahit sebelumnya yang membuatnya menjadi seseorang dengan kepribadian demikian.

Dalam sejumlah besar penelitian terkait trauma dan kepribadian, anak-anak dapat menderita trauma paling parah, tahan lama, dan berbahaya ketika itu terjadi di masa kecil mereka. Sering disebut trauma yang kompleks disebabkan oleh pengasuh utama mereka atau orang tua mereka. Dalam hal ini, sering dijumpai pula orang tua yang tidak menyadari apabila anaknya mengalami trauma oleh tindakan mereka.

Dampak Trauma Masa Kecil
Gambar dari childtrends

Trauma masa kanak-kanak lebih cenderung menyebabkan gangguan stres pasca-trauma (PTSD) daripada trauma yang terjadi di masa dewasa. Anak-anak yang pernah mengalami beberapa bentuk trauma yang berbeda lebih cenderung menunjukkan PTSD (mis., kecemasan, depresi, kemarahan, agresi, disosiasi) daripada anak-anak dengan paparan kronis terhadap satu jenis trauma. Anak-anak dan remaja dengan PTSD dapat mengalami kembali peristiwa traumatis melalui ingatan yang mengganggu, mimpi buruk, dan kilas balik; hindari situasi atau orang yang mengingatkan mereka akan trauma; dan merasakan kecemasan yang intens yang mengganggu kehidupan sehari-hari mereka. Selain itu, mereka mungkin terlibat dalam perilaku agresif, merusak diri sendiri, atau ceroboh; sulit tidur; atau tetap dalam kondisi hypervigilance, kondisi kesadaran dan reaktivitas yang berlebihan terhadap lingkungan mereka. Namun, tidak ada reaksi khas terhadap trauma. Sebagian besar anak-anak menunjukkan kesusahan segera setelah peristiwa traumatis, tetapi sebagian besar kembali ke tingkat fungsi sebelumnya.

Umumnya, bagaimana kepribadian anak yang berkembang memang bergantung pada karakter anak, keluarga mereka, lingkungan tetangga, serta lingkungan sosial secara umum.

Anak-anak yang mengalami trauma bisa jadi dijabarkan sebagai berikut:

  • Memiliki kesulitan untuk membangun hubungan dengan pengasuh (khususnya orang tua atau orang yang mengasuh mereka) serta orang asing.
  • Memiliki ketakutan berlebihan terhadap orang asing
  • Kesultan makan dana tidur
  • Kadang dijumpai pula mereka menjadi sangat rewel
  • Terkadang mencapai puncaknya dengan suatu aktivitas yang tidak biasa: tidur sepanjang malam atau bahkan tidak bisa tidur sama sekali, sering lama di kamar mandi, dan sebagainya.

Anak usia sekolah yang mengalami trauma:

  • Terlibat dalam perilaku agresif
  • Menarik diri dari berhubungan dengan orang lain
  • Memikirkan keamanannya sendiri atau mungkin juga hanya memikirkan orang lain tanpa memikirkan dirinya sendiri
  • Sering mengalami mimpi buruk
  • Bukti konkret yang terjadi adalah kesulitan berpikir di sekolah. Hal ini sangat umum dijumpai bahwa orang lain melihatnya bodoh dan tidak bisa apa-apa. Namun, sebenarnya dalam diri mereka sudah tergambarkan hal pahit yang membuat kemampuan berpikir mereka terhalangi. Sayangnya, tidak seorang pun yang akan mendekatinya karena ketidaktahuan orang-orang di sekitarnya.

Remaja yang mengalami trauma mungkin:

  • Menjadi cemas atau tertekan, bahkan depresi
  • Terlibat dalam perilaku yang merusak diri sendiri atau beresiko (Perkelahian, penyalahgunaan narkoba, pergaulan bebas, melukai diri sendiri, dan aktivitas ilegal lain)
  • Merasa sangat bersalah, marah, atau malu
  • Mengadopsi pandangan negatif orang atau masyarakat terhadap dirinya
  • Beberapa kasus berakhir pada bunuh diri atau balas dendam

Membangun Ketahanan Mental Anak dari Pengalaman Trauma

Membangun ketahanan mental anak memang bukan perkara mudah. Ditambah jika mereka mengalami trauma signifikan yang berpengaruh dalam kepribadian mereka. Namun, bukan berarti tidak bisa. Orang-orang terdekat, lembaga, dan instansi memiliki peran penting dalam memperhatikan dan memberikan ruang untuk mereka bangkit dari trauma mereka. Kesempatan untuk bisa mengembangkan kepribadian positif tumbuh dalam diri anak akan menemui titik terangnya. Jadi, jangan diabaikan!

Menelusuri kembali penelitian terkait membangun ketahanan mental dari peristiwa trauma, kita bisa menngutip referensi dari journal The construct of resilience: A critical evaluation and guidelines for future work yang ditulis oleh Lutchar, dkk.

Ketahanan mental didefinisikan sebagai proses dinamis yang mencakup adaptasi positif dalam konteks kesulitan yang signifikan.

Child Development, 71(3), 543-562

Jadi, ketahanan mental anak tidak hanya persoalan personality yang telah tertanam dalam diri anak, melainkan pula faktor dari eksternal anak yang mendukung perkembangannya.

Selain itu, The National Child Traumatic Stress Network menjabarkan beberapa peran penting yang harus dilakukan untuk membangun ketahanan mental anak. Istilah yang digunakan oleh peneliti adalah faktor pelindung, yang mana terdiri dari:

  • Dukungan keluarga, teman di sekolah, tetangga, masyarakat, dan orang-orang di lingkungan sosialnya
  • Rasa aman di rumah, di sekolah, dan di masyarakat
  • Harga diri yang positif
  • Efikasi diri (Penghargaan terhadap diri sendiri)
  • Keyakinan spiritual, budaya, tujuan, dan impian anak di masa depan yang memberikan arti makna hidup yang akan dijalaninya.

Akhirnya, ketahanan terhadap trauma masa kecil sangat tergantung pada dukungan yang tersedia untuk anak dan keluarganya. Anggota keluarga, guru, penyedia kesehatan mental, pekerja kesejahteraan anak, dan penyedia layanan masyarakat lainnya dapat bekerja sama untuk memastikan bahwa anak-anak dan keluarga menerima dukungan emosional dan konkret (mis., Makanan, tempat tinggal, stabilitas keuangan) yang mereka butuhkan. Pendekatan sistem perawatan ini juga merupakan landasan TIC.

TIC (Trauma-Informed Care)

Konteks di mana anak-anak hidup, belajar, dan tumbuh membentuk kesejahteraan jangka pendek dan jangka panjang mereka. Dengan demikian, anak-anak yang mengalami trauma lebih cenderung menunjukkan ketahanan ketika lingkungan mereka responsif terhadap kebutuhan spesifik mereka. Keluarga, sekolah, program dan layanan berbasis masyarakat, dan individu yang merawat anak-anak dapat meningkatkan peluang ketahanan setelah trauma masa kecil ketika mereka menjadi sadar akan dampak trauma masa kecil, memberikan rasa aman dan dapat diprediksi, melindungi anak-anak dari kesulitan lebih lanjut , dan menawarkan jalur untuk pemulihan mereka. Dengan kata lain, anak-anak mendapat manfaat ketika entitas ini memberi mereka perawatan trauma-informasi (TIC).

Implementasi TIC dalam Membangun Ketahanan Mental Anak

Implementasi TIC yang fokus pada satu titik yaitu trauma, sebenarnya sudah berbasis pada pelayanan dan substansi dari empat kunci. Empat kunci tersebut diistilahkan dengan 4 Rs yang dapat digunakan secara luas di seluruh program, layanan, dan institusi.

Membangun Ketahanan Mental Anak
4 Rs sebagai Proyek Membangun Ketahanan Mental Anak yang Mengalami Trauma

Penerapan upaya TIC di dunia nyata dimulai dari individu yang pertama kontak dengan anak. Hal ini membutuhkan upaya komprehensif dan multi cabang yang melibatkan banyak orang dewasa yang berhubungan dengan kehidupan anak-anak. Metode tersebut dijabarkan sebagai berikut:

1. Realize

Sadarilah sifat luas dari trauma masa kanak-kanak dan bagaimana hal itu berdampak pada perkembangan emosi, sosial, perilaku, kognitif, otak, dan fisik anak, serta kesehatan mental anak. Selain itu, orang dewasa harus menyadari pengaruh trauma pada anggota keluarga, responden pertama, penyedia layanan, dan orang lain yang mungkin mengalami stres sekunder (reaksi terkait trauma terhadap paparan pengalaman traumatis orang lain).

Dalam beberapa kasus, orang dewasa mengalami peristiwa atau keadaan traumatis yang sama dengan anak (misalnya, bencana alam, kekerasan masyarakat, kematian anggota masyarakat) dan dapat mengambil manfaat dari dukungan serupa.

2. Recognize

Kenali gejala-gejala trauma, termasuk bagaimana reaksi-reaksi trauma (mis., Gejala-gejala stres pascatrauma) bervariasi berdasarkan jenis kelamin, usia, jenis trauma, atau keadaan. Selain itu, orang dewasa dalam kehidupan anak-anak harus memahami bahwa perilaku anak yang menantang adalah reaksi normal, protektif diri, dan adaptif terhadap situasi yang sangat menegangkan, daripada melihat anak itu sebagai orang yang sengaja bertingkah nakal.

Reaksi trauma anak-anak dipahami sebagai upaya adaptif untuk melindungi diri mereka sendiri dalam merespons peristiwa traumatis. Sebagai contoh, seorang anak mungkin sangat marah terhadap kemarahan atau ketidaksetujuan orang dewasa karena, di masa lalu, ia mengalami pelecehan fisik oleh orang tua. Atau, seorang anak dapat memisahkan atau melamun sebagai respons yang dipelajari yang memungkinkan mereka untuk menghindari perasaan atau memikirkan pengalaman traumatis.

3. Respond

Tanggapi dengan membuat penyesuaian yang diperlukan, dalam bahasa dan perilaku mereka sendiri, terhadap lingkungan anak; dan terhadap kebijakan, prosedur, dan praktik untuk mendukung pemulihan dan ketahanan anak terhadap trauma.

4. Resist Re-Traumatization

Menahan trauma ulang dengan secara aktif membentuk lingkungan anak-anak untuk menghindari pemicu (suara, pemandangan, bau, benda, tempat, atau orang yang mengingatkan seseorang akan trauma asli) dan melindungi anak-anak dari trauma lebih lanjut, yang dapat memperburuk dampak negatif trauma dan mengganggu proses penyembuhan.

Pelatihan dan pengembangan pengetahuan tentang trauma anak pada orang-orang dewasa merupakan langkah penting yang harus dimiliki saat ini. Mengingat gejala trauma dan krisis mental merupakan penyakit emosional yang tidak tampak. Namun, dampak yang ditimbulkan dapat lebih berbahaya daripada luka dan penyakit fisik.

Orang tua sebagai pengasuh utama anak-anak harus mampu membaca dan mengenalinya sebagi upaya pencegahan stres dan krisis mental pada anak. Cara mengatasi trauma sejenis ini tidak membutuhkan seorang ahli apabila variabel klinis tergolong ringan. Abda sebagai orang tua hanya perlu untuk mengerti mereka dan menghindari apapun yang mampu menarik ingatan tentang trauma mereka.

TIC juga berarti memperhatikan keamanan psikologis dan fisik serta kesejahteraan orang dewasa yang merawat anak-anak yang mengalami trauma. Profesional, orang tua, dan orang dewasa yang merawat lainnya mungkin menderita stres traumatis sekunder (terkait trauma) reaksi terhadap paparan pengalaman traumatis orang lain).

Psikoedukasi (membantu orang lain memahami dampak trauma, baik pada individu yang terkena dampak dan pada penyedia layanan mereka, serta jalur menuju pemulihan), pelatihan keterampilan , pengawasan berkualitas tinggi, dan perawatan diri (misalnya, istirahat, olahraga, dukungan sosial, perhatian dan kegiatan pengurangan stres lainnya, terlibat dalam kegiatan dan hobi yang menyenangkan, psikoterapi) sangat penting untuk memastikan kesejahteraan orang dewasa dan menyediakan sumber daya pribadi yang cukup untuk bekerja secara efektif dengan anak-anak yang terpapar trauma.

Cara mengatasi trauma terbaik adalah dengan menghadapinya, mengerti, dan menerima. Bukan dengan menghindar dan melarikan diri!