Jenis gangguan mental dibagi percabang yang menjadi topik penelitian kepribadian. Perlu diketahui, menurut data penelitian, lebih dari 300 juta orang di dunia mengalami gangguan mental berupa depresi, sedangkan 260 juta jiwa yang lain mengidap gangguan kecemasan.

Dan itu hanya dua dari sekian jenis gangguan mental yang ada di dunia. Di Amerika, 1 dari setiap 5 orang mengalami gangguan mental setiap tahunnya, dan 90% bunuh diri terkait dengan gangguan mental.

Gangguan mental merupakan penyakit kejiwaan yang lebih berbahaya dibandingkan luka secara fisik. Keberadaannya yang menggerogoti secara tidak tampak itulah yang membawa dampak lebih signifikan pada diri seseorang.

Gangguan mental merupakan permasalahan psikologis secara kompleks dan luas. Bahkan, dunia telah memberikan perhatiannya terhadap permasalahan jiwa tersebut.

Ditambah diagnosis pribadi tidak dapat untuk menorehkan hasil begitu saja. Perlu praktisi untuk memberikan vonis secara ilmiah dan nyata. Sedangkan luka secara fisik, yang bisa disaksikan mata, tentu lebih mudah didiagnosis. Oleh karena itu, gangguan mental ini perlu diwaspadai!

Apa saja Jenis Gangguan Mental yang diakui dunia?

Jenis Gangguan Mental

Berikut ini kami rangkum 10 jenis gangguan mental yang telah diakui dunia dan telah masuk daftar mental illness. Sementara daftar gangguan mental yang lain memang lebih banyak dari daftar yang kami rangkum. Namun, setidaknya, cabang inilah yang menjadi dasar penelitian mengenai jenis gangguan mental.

1. Phobia

Mungkin kamu sudah mengenal jenis gangguan mental satu ini. Phobia merupakan kelainan mental berupa gangguan kecemasan yang berlebihan. Phobia melibatkan rasa takut yang berlebihan dan berkepanjangan lebih dari enam bulan. Phobia ini juga dapat memicu sebuah gangguan panik.

a. Agoraphobia

Sebuah phobia yang membuat seseorang takut meninggalkan ruang kecilnya. Ia takut keluar, meninggalkan rumahnya yang merupakan tempat teraman baginya. Phobia jenis ini mungkin sering disalahartikan dengan sifat antisosial.

Namun, perlu kamu ketahui, orang dengan phobia ini cenderung memiliki demosional kepribadian. Sesuatu yang membuatnya merasa terancam saat ia meninggalkan rumahnya sehingga ia mengalami phobia semacam ini.

b. Social Phobia

Dari namanya, kamu sudah pasti paham seseorang yang menderita phobia ini takut dengan apa. Yap, ketakutan berlebihan dengan lingkungan sosial. Apakah penyebab mereka bisa memiliki ketakutan berlebihan dengan sosial? Saya sendiri pun demikian, meskipun saya dikategorikan sebagai ‘orang normal’.

c. Spesific Phobia

Sejenis dengan rasa ketakutan terhadap hal-hal tertentu, seperti hewan, atau objek lain.

Jenis phobia sendiri sudah memiliki beberapa cabang yang bisa kamu baca selengkapnya di artikel saya: Jenis-Jenis Phobia.

2. Depresi

Pernahkan kamu membaca buku “Kunci Meraih Kebahagiaan Remaja”? Sayangnya, buku ini tidak dijual, hanya diperuntukkan untuk lembaga literasi, seperti perpustakaan. Mungkin kamu bisa menemukan buku ini di Perpusnas atau perpustakaan daerah.

Dalam buku ini, depresi diartikan sebagai suatu kondisi medis-psikatris dan bukan sekadar suatu keadaan sedih. Bila kondisi depresi seseorang hingga membuat seseorang mengalami kesulitan dalam aktivitas sehari-harinya, maka hal itulah yang disebut sebagai gangguan mental depresi.

Berdasarkan penelitian, 2-7% orang dengan depresi berat bisa saja melakukan perbuatan sembrono, termasuk bunuh diri. Depresi bisa dikatakan pula perasaan sedih, lesu, dan mood rendah selama lebih dari dua minggu dan cukup parah mengganggu aktivitas sehari-hari.

Seperti yang dideskripsikan di atas, depresi tidak sekadar perasaan sedih. Pemicu depresi seringkali disebabkan oleh tekanan mental yang berlebihan di atas kemampuan seseorang untuk menghadapinya. Hasilnya, seseorang menjadi lemas dan tidak memiliki semangat untuk menghadapinya.

Lalu, bagaimanakah cara untuk mengatasi depresi ini? bisa kamu baca di uraian artikel yang telah saya tulis di “Cara Mengatasi Depresi ala Penulis Novel Fantasi Omegarion”

3. PTSD (Post-Traumatic Stress Disorder)

PTSD adalah gangguan mental yang berkembang dalam diri seseorang dari peristiwa tidak menyenangkan yang pernah dialaminya. PTSD kurang lebih digambarkan seperti trauma yang dialami seseorang dari pengalaman yang tidak menyenangkan, seperti peperangan, kekerasan seksual, kecelakaan, dan sebagainya.

Gejala yang paling umum dialami adalah flashback dengan ingatan tersebut ketika ia melihat sesuatu yang berkaitan dengan ingatan tidak menyenangkan tersebut.

Orang dengan PTSD akan mengalami gangguan tidur, gangguan berpikir, mimpi buruk, berusaha untuk menghidari sesuatu objek tertentu, isyarat terkait dengan trauma yang dialami, serta gejala lain yang berkaitan.

50% orang dengan gangguan PTSD adalah korban pemerkosaan

WHO Observe

4. Gangguan Obsesif Kompulsif

Gangguan mental ini merupakan tipe gangguan kecemasan yang mana seseorang memiliki kebiasan untuk melakukan sesuatu secara berulang. Seseorang bisa untuk mendesak memeriksa kembali sesuatu atau melakukan suatu kegiatan berulang kali. Obsesi dapat pula dikatakan fokus secara penuh.

Ketika mental pikiran itu terwujud dalam suatu tindakan, kita menyebutnya dorongan. Misal, kamu kerajinan main game sampai tidak bisa berhenti, berarti kamu sedang obsesif dengan permainan itu.

Atau kamu yang keseringan mendengarkan musik melalui earphone dan tidak nyaman jika tidak mendengarkannya, maka kamu juga bisa dikatakan mengalami gangguan mental berupa obsesif kompulsif.

Dalam ilmu psikologi, obsesi diukur berdasarkan tiga kriteria, yaitu:

  1. Seberapa banyak waktu yang dihabiskan?
  2. Apakah mengganggu kehidupan normal sehari-hari?
  3. Apakah merusak atau menjurus ke hal-hal yang berbahaya?

Obsesi menjangkau berbagai tingkatan spekturm, dari angka satu, kecenderungan yang hampir tidak tampak sama sekali, sampai angka sepuluh yang sudah menjadi angka penyakit Sampai seberapa tingkat spektrum obsesi itu sangat berkaitan erat dengan kepribadian seseorang.

Untuk mengetahuinya, bisa kamu baca dalam Penyebab, Gejala, dan Cara Mengatasi Kepribadian obsesif kompulsif.

5. Bipolar

Masih ingat dengan kasus Marshanda yang dikabarkan pernah mngidap bipolar? Mungkin memalukan karena memiliki aib semacam penyakit jiwa ini. Namun, apa yang mau dikata?

Kemungkinan karena tekanan batin yang tidak bisa ia sampaikan itulah menjadi dorongan munculnya gangguan mental berupa bipolar ini pada dirinya.

bipolar
Ilustrasi gangguan bipolar

Bipolar adalah jenis gangguan mental yang ditandai dengan perubahan mood secara cepat antara mode depresi dengan mode penuh energi. Orang dengan kelainan mental ini akan susah kontak dengan kepribadiannya sendiri.

Ia tidak bisa menentukan apakah dia merasa senang atau sedih. Hal ini berbahaya karena bisa menjadi pemicu munculnya gangguan mental berupa schizophrenia.

Tanda-tanda yang bisa kamu amati adalah:

Episode depersi: semangat rendah, motivasi rendah, energi rendah, kehilangan minat, dan lesu.

Episode Manik: Semangat tinggi, mengurangi kebutuhan tidur, kehilangan kontak dengan realitas.

Bipolar: bentuk gangguan jiwa (psikologis) dengan gejala gembira dan sedih silih berganti; kegembiraan dan kesedihan yang berlebihan yang tidak sesuai dengan rangsangan yang ada.

KBBI V

6. Insomnia

Jenis gangguan mental satu ini mungkin sudah tidak asing lagi bukan. Apakah sebelumnya kamu pernah berpikir jika insomnia termasuk gangguan mental? Saya sendiri cenderung mengalaminya sejak pengalaman saya lulus dari sekolah menengan atas.

Insomnia adalah jenis gangguan mental yang menyebabkan seseorang kesulitan tidur atau ia bisa terjaga sepanjang malam. Penyebabnya masih belum diketahui. Insomnia memiliki gejala psikiatris dengan ranah yang berbeda dan kondisi medis yang sama.

Akibatnya, orang dengan insomnia akan memiliki energi yang rendah karena kurang tidur, buruk dalam berkonsentrasi, penurunan daya kognitif, bahkan depresi. Cara mengatasinya secara optimal adalah dengan pergi ke dokter psikiatri. Biasanya dokter akan memberikan resep obat-obatan hipnotik-sedatif.

Baca Juga: Cara Membangun Ketahanan Mental Anak dari Trauma

7. Gangguan Makan

Gangguan mental satu ini sedikit umum dan tidak terlalu berbahaya, tetapi kamu harus waspada. Kenapa? Rupanya gangguan pola makan ini bisa memicu hal beresiko lain jika kamu tidak segera mengatasinya.

Gangguan pola makan merupakan jenis gangguan mental yang ditandai dengan kebiasaan makan yang tidak biasa dan mengalami tekanan ekstrem akan perubahan berat dan bentuk tubuh. Tiga cabang akibat dari gangguan pola makan apabila kamu tida mewaspadinya adalah sebagai berikut:

a. Anoreksia

Seseorang yang mengalami ketakutan berlebihan untuk menambah berat badan, maka bisa beresiko mengalami anoreksia. Anoreksia berarti adalah kehilangan selera makan.

Anoreksia ditandai rasa takut berlebihan terkait dengan pertambahan berat badan sehingga membuat seseorang memiliki pandangan abnormal tentang suplai makan pada dirinya

Source
Penderita Anoreksia di masa lalu
Penderita Anoreksi di Masa Lalu | Wikipedia commons

Seseorang yang memiliki kelainan mental terkait gangguan makan, bisa saja akan sangat membatasi konsumsi makanannya. Apa dampaknya? Tentu saja tubuh akan mengalami defisiensi mineral yang sangat penting untuk metabolisme. Jika sudah demikian, maka energi yang diperlukan untuk beraktivitas tidak ada. Ia akan terlihat mudah capai dan lesu.

b. Bulimia

Penyakit ini dalam psikologi medis lebih sering disebut sebagai bulimia nervosa. 75% penderitanya adalah seorang wanita dengan bentuk kelainan berupa penyiksaan pada dirinya sendiri. Biasanya mereka akan memaksa dirinya untuk memuntahkan makanan yang telah masuk dalam perutnya, bahkan menggunakan digestiva.

Sekitar 3% wanita di USA menggunakan metode ini dengan obat pencahar untuk memuntahkannya. Mereka akan makan banyak makanan kemudian memuntahkannya kembali.

Untuk apa?

Hal ini dilakukan mereka sebagai bentuk pemenuhan kebutuhan yang sebenarnya tidak perlu. Mereka membutuhkan makan, tetapi mereka tidak ingin mengisi perutnya terlalu banyak. Sehingga, jalan keluarnya adalah dengan memuntahkannya kembali.

Hal itu dilakukan sebab rasa bersalah mereka akan kekenyangan. Kebiasaan lain adalah mereka sering melakukan diet ketat dan over olahraga demi mengatasi rasa bersalah mereka. Mereka juga terbiasa untuk memakan sesuatu cepat-cepat kemudian memuntahkannya kembali untuk menghindari binge.

8. Skizofrenia

Pernah menonton drama korea “It’s okey that’s love?” Meskipun genre drama tersebut lebih pada untuk orang dewasa, tetapi penggambaran jenis gangguan mental ini kurang lebih memang demikian.

Skizofrenia adalah gangguan mental yang sangat berbahaya karena bisa mengancam nyawa. Terbukti, orang dengan skizofrenia akan merasa ketakutan atau bahkan bisa menciptakan teman ilusi yang seolah-olah tampak nyata. Tidak jarang, pemikiran yang dibuatnya sendiri tersebut bisa menjemuruskannya pada hal yang beresiko, seperti kecelakaan.

Skizofrenia adalah jenis gangguan mental yang memengaruhi kemampuan seseorang untuk berpikir, merasakan, dan bertindak, secara benar. Penderita biasanya kesulitan membedakan antara sesuatu yang nyata dan imajinasi.

Keadaan ini pada umumnya diejawantahkan dalam bentuk halusinasi, paranoia, atau waham yang ganjil, atau cara berbicara dan berpikir yang kacau disertai dengan disfungsi sosial dan pekerjaan yang signifikan.

Gejala awal biasanya muncul pada saat dewasa muda, dengan prevalensi semasa hidup secara global sekitar 0,3% – 0,7%. Diagnosis didasarkan atas pengamatan perilaku dan pengalaman penderita yang dilaporkan. (Wikipedia Source)

9. Paranoia

Paranoia adalah jenis gangguan mental dimana seseorang berpikir orang lain membahayakan dirinya.

Analogi sederhananya adalah perlakuan terhadap anjing bisa membuat kamu lebih cepat memahami pengertian kepribadian paranoia. Membuat anjing yang paranoia lebih mudah dilakukan, kamu dapat memanggilanya dan kemudian memukulnya. Kamu bisa juga memukulnya, mengabaikannya, memakinya, dan meneriakinya.

Kamu bisa membuat janji yang tidak kamu tepati, misalnya menjulur-julurkan makanan kesukaannya, tetapi kemudian menariknya kembali. Tanpa kamu sadari, anjing kamu yang kecil dan lucu tersebut akan menjadi begitu penuh kemarahan dan kecurigaan, sehingga ia akan menggonggongi setiap orang. Sekalipun ada orang yang berniat baik, ia akan tetap menggongging.

Begitu pula dengan seseorang yang paranoid juga akan bertingkah laku sama. Akibat dilecehkan, dihina secara verbal, dan mungkin juga secara fisik sepanjang masa kecilnya, diabaikan, dan diberi janji-jani kosong, maka awalnya mereka akan belajar untuk tidak mempercayai orang tuanya. Akibatnya secara logis, ia tidak memercayai figur-figur yang kuat.

Tidak jarang pula guru yang memperhatikan dan mendekatinya akan ditanggapi dengan kemarahan, ketidakpercayaan, dan kecurigaan. Ia menganggap guru yang baik itu akan menyakitinya, paling tidak secara psikologis. Bagi dia, tidak ada figur kuat yang baik, bahkan tidak ada orang yang bisa dipercaya. Ia juga bisa sangat angkuh, rendah diri, serta merasa benar-benar sendiri dan kaku.

10. Gangguan Panik

Gangguan panik merupakan jenis gangguan mental berupa serangan panik dan takut berlebihan selama lebih dari 10 menit. Orang dengan kelainan mental ini tidak dapat menguasai dirinya saat panik datang. Gejala yang dapat kamu amati adalah berkeringat dingin, gemetar, napas tersengal-sengal, detak jantung yang cepat, mati rasa, bahkan pingsan.