Apa itu Cross Dressing?

Sebelumnya, saya tidak pernah terbesit untuk menulis tentang artikel judul ini. Pemilihannya pun saya sama sekali tidak mengerti apapun, hingga saya bertemu dengan seorang teman yang memiliki kebiasaan ini. Saya tidak pernah bertemu dengannya, tetapi cukup sering bercerita dalam pesan digital. Jika bukan karena dia, mungkin saya tidak pernah mengenal istilah cross dressing.

Cross dressing sebenarnya dalam ilmu kejiwaan lebih disebut dengan istilah transvetitisme. Transvetitisme adalah perilaku seseorang yang berpakaian dan berias seperti lawan gender. Seperti seorang laki-laki yang berbusana seperti perempuan, dan sebaliknya.

Sebenarnya, cross dressing ini tidak bisa dikatakan sebagai kelainan seksual. Meskipun, dalam beberapa blog dan referensi yang saya baca, menyebutkan bahwa cross dressing termasuk dalam kelainan seksual. Khususnya transvetitisme yang seringkali dikaitkan dengan kelainan seksual.

Pengakuan Seseorang dengan Pengalaman Cross Dressing

Awalnya, saya juga belum benar-benar paham, sebenarnya cross dressing itu apa? Atau kenapa orang bisa memiliki kebiasaan yang mungkin dari sudut pandang orang lain terlihat menggelikan.

Ya, awalnya saya sama sekali tidak bisa sampai hati untuk berpikir rasional. Cuma ada dalam pikiran saya, kok, bisa?

Saya benar-benar heran, kaget, dan tidak pernah menyangka bahwa saya akan bertemu seorang teman dengan kelainan perilaku seperti ini. Setelah bercerita banyak hal, saya beranikan bertanya, “Kenapa kamu bisa berperilaku seperti itu?”

Cross dressing
Dokumentasi cross dressing di masa lalu

Dan dijawab olehnya, dia lakukan hanya untuk pelampiasan. Saya tanya kemudian, “Ada masalah kah dengan pengalaman hidup kamu?” Saya bertanya demikian sebab saya berpikir mungkin dia pernah memiliki pengalaman pahit dengan orang tuaya. Sebab saya sering pula mendengar cerita dari teman-teman, juga rekan yang saya temui online, curhat, mengatakan bahwa mereka trauma dengan masa kecil.

Namun, ia menjawab bahwa ia melakukannya saat pikirannya tidak mampu mengatasi tugas yang banyak, deadline dekat yang rasanya membuat leher tercekik.

Saya ber-hm dengan diri saya sendiri. Sebenarnya masalah yang dihadapi rupanya tidaklah seberat yang selama ini dengar dari rekan-rekan yang pernah kirim pesan curhat pada saya. Namun, perlu diingat, ukuran berat dan tidaknya beban hidup memang memiliki porsi yang berbeda tiap orang. Jangan tanyakan untuk seseorang yang terbiasa dengan beban hidup, pikiran pucet, dan kuyu layu badan menghadapi permasalahan hidup dengan seseorang yang tidak terbiasa mengalaminya.

Gambarannya cukup sederhana, mereka yang terbiasa akan merasa biasa.

Kita juga tidak pernah tahu, segala hal yang kita anggap biasa, bisa saja sangat berat ketika dialami oleh orang lain. Termasuk dalam hal ini teman saya ini. Saya tidak pernah menyalahkan bahwa perbuatan semacam ini salah. Namun, saya juga tidak bisa membenarkannya.

Apakah Cross Dressing Termasuk Kelainan Mental?

Inilah yang sangat awal saya cari referensinya sejak teman saya bercerita tentang dirinya. Saya cukup ketahui bahwa cross dressing bukan termasuk kelainan mental atau kelainan jiwa, melainkan mungkin bisa dikatakan sebagai penyimpangan perilaku.

Bagaimana dengan penyimpangan etika?

Saya pikir untuk beberapa orang mungkin akan menilai bahwa perilaku berpakaian dan bahkan berias seperti lawan jenis ini tidak sopan. Juga dipikir pasti menggelikan. Akan tetapi, pikirkan sebab mereka melakukannya? Mereka sama saja seperti kita, yang membedakannya hanyalah bagaimana cara kita memandangnya.

Sepanjang sejarah dan di era modern, cross dressing hanya digunakan untuk tujuan penyamaran, kenyamanan, dan ekspresi diri.

Yang perlu diingat hanyalah, jangan sampai kebablasan. Beruntungnya, teman saya ini masih sadar. Yang perlu diperhatikan adalah tetap menjaga pikiran tetap waras. Di Indonesia mungkin masih sembunyi-sembunyi dan belum ter-ekspos secara nyata – mungkin hanya beberapa selebriti –

Akan tetapi, jika kamu membuka mata lebih jauh, di luar negeri sudah menjamur perilaku yang dianggap menyimpang ini. Bahkan, di beberapa neara sudah dianggap normal. Apakah hal itu dibenarkan dalam dunia psikolog? Tidak.

Lalu, sebenarnya, ukuran normal itu yang seperti apa? Bagi mereka, berekspresi dengan melakukan cross dressing itu normal.

Baca Juga: Cara Ubah Insecure jadi Bersyukur

Asal Mula Munculnya Istilah Cross Dressing

Penting nggak mengetahui sejarahnya cross dressing? Ya, untuk sekadar tahu saja.

Di masa dulu, perilaku ini bermula dari patriarki yang berlaku dalam normal sosial. Patriarki adalah sistem sosial yang menempatkan laki-laki di atas derjata wanita. Laki-laki memegang kekuasaan, kendali, serta kepala dalam segala aspek kehidupan sosial. Wanita hanya memiliki sangat sedikit hak, bahkan tidak sama sekali. Untuk itu, dulu tidak jarang, jika seorang wanita berbusana dan mengidentifikasi dirinya sebagai seorang laki-laki.

Sejarah Cross Dressing
Satire on cross-dressing, sekitar tahun 1780 Britain

Altenburger menyatakan bahwa cross-dressing perempuan ke laki-laki menggambarkan gerakan maju dalam hal status sosial, kekuasaan, dan kebebasan. Sebaliknya, laki-laki yang berpakaian silang dipandang rendah karena mereka secara otomatis kehilangan status ketika berpakaian sebagai wanita.

Masih ingat dengan cerita J.K. Rowling dalam memperjuangkan terbitnya buku novel Harry Potter yang ditulisnya? Hanya karena ia menulis nama aslinya, penerbit tidak menerimanya. Disamping juga beberapa alasan lain. Karena itu, saat menunjungi percetakan yang akhirnya mau menerbitkan tulisannya, ia menggunakan nama samaran yang salah mengira bahwa nama tersebut adalah laki-laki.

Patriarki memang begitu kentara.

Asal Mula Cross Dressing di Abad Pertengahan

Pada abad pertengahan, pemerintah dan masyarakat penggerak sosial melarang seorang wanita untuk tampil di atas panggung (teater). Oleh karena itu, kebanyakan peran wanita dimainkan oleh laki-laki. Laki-laki lebih banyak mengambil peran perempuan, seperti dalam teater Yunani kuno, teater Renaissance Inggris dan terus berlanjut pada teater kabuki Jepang.

Kemudian berkembang dalam film-film tanpa suara, banyak aktor yang masih memainkan peran wanita. Charlie Chaplin dan Stan Laurel adalah pembawa tradisi memainkan peran wanita di ruang musik Inggris ketika mereka datang ke Amerika dengan rombongan komedi Fred Karno pada tahun 1910.

Chaplin dan Laurel juga kadang-kadang berpakaian sebagai wanita dalam film mereka. Bahkan aktor Amerika, Wallace Beery, muncul dalam serangkaian film bisu sebagai wanita Swedia. The Three Stooges, terutama Curly (Jerry Howard), kadang-kadang muncul dalam film pendek mereka. Tradisi telah berlangsung selama bertahun-tahun, biasanya dimainkan untuk hiburan. Hanya dalam beberapa dekade terakhir telah ada film dramatis di mana cross-dressing dimasukkan hingga akhirnya diberlakukan sensor ketat pada film-film Amerika sampai pertengahan 1960-an.

Kontroversi mengenai Cross Dressing dan Transvetitisme

Ada banyak jenis cross-dressing dan berbagai alasan mengapa seseorang mungkin terlibat dalam perilaku cross-dressing. Beberapa orang cross-dress sebagai masalah kenyamanan atau gaya, preferensi pribadi untuk pakaian yang terkait dengan lawan jenis. Beberapa orang berpakaian silang untuk mengejutkan orang lain atau menantang norma sosial; yang lain akan membatasi cross-dressing mereka dengan pakaian dalam, sehingga tidak terlihat.

Di Indonesia, orang yang melakukan cross dress mungkin dianggap gila atau banci. Kewarasan mereka menghilang. Bahkan, beberapa artis juga dijumpai melakukan hal ini dan dengan percaya diri membumbungkan eksistensi mereka ke publik.

Untuk yang pernah kita jumpai, seperti Millen Cyrus, dia sudah dapat dikatakan mengalami transvetitisme. Dari awal yang hanya coba-coba menjadi nyaman dan ketagihan. Jika dipikirkan secara rasional, perbuatan ini benar-benar irasional.

Kita mungkin bertanya-tanya, kemana rasa malu mereka?

Tidak ada. Sebab merek melalukannya hanya untuk ekspresi diri, pelampiasan dari kemarahan, atau trauma.

Fase Lanjutan Cross Dress: Transgender & Transvetitisme

Transvetitisme adalah fase lanjutan dari cross dressing. Mereka sudah berani menampilkan diri di depan umum dan bahkan tak jarang untuk benar-benar mengidentifikasi diri mereka sebagai lawan jenis. Bahkan, jika mereka menginginkan yang lebih permanen dan berlanjut, maka bisa saja mereka akan melakukan transgender.

Jika menelisik dari hukum agama, perilaku seperti ini sangat dikecam. Bahkan, ancaman dari Tuhan bagi siapa yang berani berdandan dan berias seperti lawan jenis, maka Tuhan akan menutup pintu surga darinya. Jadi, sangat jelas dari hukum agama dan sosial, hal ini sangat tidak diterima, dikecam, dan dipandang rendah.

Cross Dressing dari Sudut Pandang Psikologi

Mengutip dari Diagnostic and Statistical Manual of Mental Disorder edisi keempat, fetitisme hanya terbatas pada pria heteroseksual. Kemungkinan untuk seorang wanita melakukan cross dressing sangat jarang. Bagi wanita, mungkin hanya menunjukkan sikap yang agak kelaki-lakian. Lebih banyak jika penyimpangan perilaku ini dilakukan oleh seorang laki-laki.

Cross Dress menurut sudut pandang psikologi

Menurut Dr. John M Grohol, Psy. D, cross dressing diartikan sebagai gangguan transvestik yang terjadi dalam jangka waktu minimal 6 bulan. Penyimpangan kepribadian ini juga menyebabkan penderita mengalami kesusahan dalam sosial, pekerjaan, dan fungsi penting lainnya.

Meskipun tidak perlu, gangguan ini dapat terjadi dengan fetisisme (orang tersebut terangsang secara seksual oleh bahan, pakaian, atau kain) atau dengan autogynephilia (orang tersebut terangsang secara seksual oleh pikiran atau gambar diri sendiri sebagai perempuan).

Jika seseorang memiliki riwayat gangguan ini tetapi tidak menyebabkan kesulitan atau kerusakan dalam 5 tahun terakhir, orang tersebut akan dianggap “dalam remisi”. Meskipun jika dimasukkan dalam kategori ini, maka penderita sudah berani melakukan hal yang diluar kewajaran.

Cross Dressing Menurut Pandangan Medis

Jurnal edisi ke-10 dari International Statistical Classification of Diseases and Related Health Problem memutuskan untuk memasukkan dual-role transvetitism (non seksual cross dressing) dan fetishistic transvetitism (cross dressing untuk kebutuhan seksual) sebagai gangguan kepribadian / penyakit jiwa. Namun, kedua diagnostik tersebut dihapus pada laporan edisi ke-11. Fetitisme transvestik adalah parafilia, yakni pengalaman rangsangan seksual yang intens untuk objek, situasi, fantasi, perilaku, atau individu yang tidak lazim.

Sehingga, keduanya dipisahkan dalam kategori yang berbeda. Laporan ini disesuaikan dengan jurnal kejiwaan dari Amerika, Diagnostic and Statistical Manual Disorder 5th.

Membangun Kepercayaan Diri tanpa Cross Dressing

Saya ras kebanyakan orang yang kemungkinan mengidap penyimpangan ini mungkin hanya untuk pelampiasan. Namun, di sisi lain, dari beberapa cerita yang telah saya baca, tentu saja tidak jarang hal ini hanya dijadikan kedok oleh beberapa orang untuk bisa dekat dengan lawan jenisnya.

Mungkin tidak akan mudah untuk melawan kebiasaan atau hal yang sudah dianggap nyaman. Namun, adakalanya kamu harus mengingat hal ini, siapkan kamu melawan semesta?

Cara menghilangkan kebiasaan cross dressing

Saya pikir, menyusun daftar cara untuk menghilangkan cross dressing dan bahkan bisa sembuh dari cross dressing ini diperlukan, khususnya untuk kamu yang ingin berubah demi kebaikan. Percayalah, semesta yang telah ada, aturan yang telah digenggam oleh Tuhan adalah yang terbaik.

Cara sembuh dari cross dressing juga bukan perkara mudah. Namun, ini adalah titik awal bagimu jika kamu benar-benar ingin sebuh dari kebiasaan itu. Dan saya merasa, siapapun yang ingin memulai untuk bisa sembuh dari cross dressing, ini adalah permulaan awal yang terbaik untuk kamu lakukan.

Berikut ini adalah beberapa cara untuk bisa sembuh dari cross dressing yang bisa saya sarankan. Saya berharap, beberapa langkah berikut ini bisa membantu kamu untuk menghilangkan kebiasaan cross dressing yang kamu lakukan dan bisa memulai lembaran baru secara lebih positif.

1. Cara sembuh dari Cross Dressing berawal dari Niat dan Keinginan

Ingatkah dengan pepatah, “Dimana ada kemauan, di situ ada jalan.” Sama seperti kamu ketika ingin sembuh dari cross dressing harus bermula dari niat. Menghilangkan cross dressing dari kepribadian kamu akan sulit saat kamu tidak memiliki keinginan kuat untuk sembuh. Ingat, cross dressing dalam ilmu psikologi termasuk dalam gangguan jiwa (disorder).

Langkah pertama jelas tentulah niat! Mungkin kamu berpikir, cross dressing itu berdosa sehingga kamu ingin berhenti. Mungkin kamu berpikir cross dressing merusak dalam hidup dan ingin berhenti. Mungkin itu merusak pernikahanmu dan ingin berhenti. Mungkin kamu hanya takut akan kenyataan tertangkap. Tapi apapun masalahnya, langkah pertama adalah keinginan untuk berhenti. Jika kamu belum mencapai titik ini, pertimbangkan untuk membaca postingan ini.

Kebanyakan crossdresser terjebak dalam kepercayaan bahwa tidak mungkin untuk menghentikan crossdressing dan terjebak dalam penipuan diri crossdressing

Omegarion – Cross Dressing

Saat kamu sudah terlalu jauh, maka ingat pula, kesempatan bagimu untuk bisa sembuh juga akan semakin sulit. Jadi, untuk hal utama yang harus kamu jadikan fondasi adalah Niat dan Percaya!

2. Hilangkan Cross Dressing dengan berdoa

Pernahkah berpikir untuk menggunakan cara ini? Upaya yang kamu lakukan dalam bergantung pada diri sendiri memang penting. Namun, jangan pernah lupa, Tuhan selalu ada untuk kamu. Hanya saja kamu yang sering melupakan Tuhan.

Doa adalah pedang yang bisa mengubah jalan hidup kamu – disamping usaha –

Saat berdoa, panjatkanlah dengan penuh keyakinan, “Ya Tuhan, saya ingin sembuh. Berilah ridhomu agar saya menjadi manusia yang tidak hina di mata-Mu.”

Perbaikilah hubunganmu dengan Tuhan, jangan pernah menyepelakan. Pasti kamu akan merasakan bedanya saat kamu jauh dari Tuhan kemudian merasa benar-benar dekat dengan-Nya. Kamu akan merasakan ketenangan yang hakiki dalam hatimu. Juga, doalah yang bisa mengubahmu.

Penuhilah pikiranmu dengan keberadaan Tuhan, kebenaran kitab suci dalam agama kamu, juga kebenaran akan agama kamu.

Tuntunlah dirimu sendiri karena orang lain tidak akan melakukannya untukmu!

Omegarion

3. Carilah Teman Support untuk Hilangkan Kebiasaan Cross Dressing

Hal ini memang tidka mudah untuk dilakukan. Ditambah di laur sana, mungkin beberapa orang yang baru mendengar saja bahwa kamu seorang cross dress akan ogah-ogahan untuk melihat kamu. Ditambah apabila pandangan mereka yang masih kolot dengan stigma penyakit jiwa itu “rendah”.

Namun, bukan berarti tidak ada. Percayalah, ada seseorang yang pasti akan mendukung kamu untuk bisa sembuh dari cross dressing. Tidak perlu banyak, cukup satu pun tidak apa, asal kamu mempercayainya, dan dia mempercayaimu.

Dia ada untuk selalu mendukung kamu untuk bisa sembuh dari cross dressing melalui hal-hal yang positif.

4. Alihkan pikiran dengan kegiatan lain yang lebih faedah

Saat kamu berpikir untuk melampiaskan segalanya dengan cross dressing, maka inilah saat yang tepat bagimu untuk mengingat, Kamu ingin berubah! Lakukanlah sesuatu yang lain sebagai pengalihan secara perlahan.

Sebagai contoh adalah saya sendiri. Saat saya stres, saya cenderung melakukan hal yang tidak berguna. Bisa dikatakan pula teman saya melakukan cross dressing untuk pelampiasannya. Namun, daripada melakukannya, bukankah lebih kamu habiskan waktumu untuk melakukan hal lain yang lebih mendatangkan kebaikan untukmu, uang misalnya. Saya pun habiskan waktu saya ketika stres dan banyak masalah dengan menulis.

Istilahnya, pelampiasan saya adalah blog ini – menulis –

Omegarion

5. Saran dan Konsultasi

Ada kalanya bagi kamu untuk melakukan konsultasi pada ahli jika kamu merasa tidak mampu lagi untuk menghadapinya sendirian. Jika kamu tidak memiliki budget untuk melakukannya, kamu bisa memintal bantuan seseorang yang kamu percaya untuk berdiskusi.

Banyak sekali konsultasi dengan psikiater dan psikolog yang bisa kamu datangi untuk membantu menyelesaikan permasalahan psikologis yang kamu hadapi. Atau kamu bisa mencoba berkonsultasi melalui online therapy yang saya rekomendasikan tersebut. Kamu hanya perlu mendaftar pada situs tersebut, setelah dikonfirmasi, kamu akan bertemu profesional kejiwaan yang bisa membantu kamu. 

Note: Dapatkan diskon 20% secara langsung melalui link online theraphy ini.

6. Perbanyak membaca dan wawasan seputar kejiwaan

Cara ini bisa membantu kamu. Saya sendiri dulu juga bisa bangkit dari depresi dan kepribadian pasif kompulsif karena banyak membaca buku seputar kejiwaan, khususnya untuk menyembuhkan luka diri sendiri.

Salah satu buku yang saya sarankan mungkin “Kunci Meraih Kebahagiaan Remaja“. Kamu bisa menjumpainya di tiap perpustakaan publik sebab buku ini tidak dijual. Pemerintah sengaja mencetak buku ini karena melihat prospek kejiwaan negeri ini. Juga menjadi salah satu upaya dalam menghadapi Indonesia darurat mental.

Apabila mungkin kamu membutuhkan teman bercerita, kami bersedia menampung cerita kamu dan memberikan saran dari praktisi psikolog yang ada bersama kami. Gratis! Silahkan kunjungi saja halaman contact us.