Bagaimana Cara menghadapi Lingkungan kerja yang toxic?

Mungkin sudah pernah kalian jumpai selama kalian bekerja di suatu instansi. Apalagi jika lingkungan kerja kalian adalah lingkungan kerja dengan persaingan dan rasa senioritas yang kental nyatanya. Bisa-bisa hanya untuk sekadar bernapas saja sesak rasanya.

Dimana saja pasti akan menjumpai seperti ini. Tidak di Indonesia, di luar negeri pun pasti ada. Cerita yang sama pernah saya dengar sewaktu saya melontarkan pertanyaan seputar itu di LinkedIn. Kemudian, ada salah satu rekan yang terhubung dengan saya menjawab pertanyaan saya: “Pernahkah pekerjaan yang telah kalian kerjakan susah payah, pada akhirnya teman kalian yang mendapat pengakuan karena mengaku atau mengklaim bahwa yang menyelesaikannya adalah dirinya? Bagaimana rasanya?

Rekan saya menjawabnya detail sekali. Namanya Pak Beffy Irawan, kurang lebih seperti ini tanggapannya:

Cara Menghadapi Lingkungan Kerja yang Toxic
Kisah Pak Beffy Irawan | Gambar disematkan oleh Beliau

Hanya ingin berbagi pengalaman Saat sy baru join 2 minggu sebagai teknisi di suatu pabrik di luar negeri. Di musim panas suhu sekitar 51 derajat, mengecek suatu alat di tower dan memanjat tangga dengan ketinggian sekitar 30 meter.

Selesai dari pekerjaan tsb berniat kembali ke workshop utk istirahat, turun dari tower tapi setibanya di bawah, sepeda roda tiga yg digunakan utk transportasi dan membawa tas peralatan sdh hilang entah siapa yang ambil Berjalan menuju workshop utk istirahat di tengah panas terik, ditengah perjalanan ada teman yang terlihat kesulitan memperbaiki suatu alat, saya pun inisiatif untuk membantu dan sang teman pamit utk pergi dulu.

Pekerjaan beres dan sy tiba di workshop ternyata laporan pekerjaan sudah diisi atas nama teman saya. Saya berfikir untuk resign dan kembali ke Indonesia tapi saya menahan diri karena ada target yg mesti saya capai. Saya terus berusaha belajar dan aktif berkomunikasi baik dengan teman dan atasan, dan juga aktif dalam program/kegiatan dari dept/perusahaan.

Hingga akhir nya atasan mengetahui potensi saya dan dipromosikan, saat itu sy sdh siap2 resign krn ada tawaran dari beberapa perusahaan lain Kl mau resign mudah saja dan bisa kapan saja, tapi apa yg sdh disiapkan?

***

Kurang lebih seperti itu. Saat itu saya menyadari, jika kita sudah terlanjur masuk pada suatu perusahaan, pasti akan ada cobaan yang menghadang kita. Pengalaman saya pun tak luput dari hal tersebut.

Saya resign dari tempat kerja pertama, meski instansi saya sebelumnya adalah milik pemerintah. Namun, tempatnya tidak cocok bagi saya. Hanya bertahan beberapa bulan, saya geram, dan memilih keluar. Hingga saya diterima di tempat kerja saya sekarang.

Ya, dimanapun masalah lingkungan pekerjaan pasti akan ada. Khususnya jika orang dengan kepribadian seperti saya. Saya sendiri mengakui kepribadian saya yang sulit untuk dekat dengan orang lain. Saya memang tidak mudah menaruh kepercayaan pada orang lain karena beberapa kali kepercayaan saya dilebur dengan sebuah pengkhianatan.

Dan saya tersentak, teman saya yang pernah bekerja di instansi yang sama – tempat kerja saya sekarang – mengatakan, “Iya, aku nahan itu sebenarnya. Nangis ga jelas setiap malam. Apalagi disana rasanya harga diri itu diinjak-injak, Rin!” Apa yang dia katakan, itulah yang saya rasakan sekarang.

Benar, Inilah yang terjadi di indonesia sekarang , keadilan tidak berlaku kepada orang lemah

Saya mengutip salah satu komentar yang menurut saya berpengaruh

Ya, kaum minoritas akan menjadi terasingkan diantara mayoritas. Sikap subyek yang menjadi pemimpin mayoritas secara spontan, tanpa peraturan yang jelas dalam komunitas tertentu, akan berdampak pada minoritas. Di sinilah maksud saya, saya dan teman saya masuk dalam kategori minoritas. Keburukan dan ketidakpawaian kami menghasut atau membuat orang menjatuhkan perhatian pada kami. Maka, timbulah dimana tekanan batin dan pergulatan pikiran setiap saat. Hal inilah yang mungkin menyebabkan kami menangis tanpa alasan setiap malam atau ketika sedang sendirian.

Opini Orang mengenai Kita

Saya banyak sekali menjumpai orang dengan mudahnya judge seseorang tanpa mengerti seluk beluk sebenarnya dalam diri seseorang yang ia judge itu. Seperti contoh, saya pernah membaca postingan seseorang di Quora.

Sebuah pertanyaan terlontar, Apakah kamu mengenal orang yang sangat pintar pada saat sekolah, namun tidak berhasil dalam pekerjaan/kariernya?

Saya agak tidak setuju dengan jawaban yang dikemukakan oleh Penjawab. Bahkan, komentar yang disampaikan oleh beberawa quorawan juga menuai kontra. Dari pertanyaan tersebut, saya menyadari bahwa banyak orang di luar sana yang memiliki permasalahan sama seperti saya. Bukan bermaksud menyombongkan diri atau bagaimana, karena itulah kenyataannya. Jika dibolehkan memilih pun, saya lebih memiliki EQ tinggi daripada IQ.

Namun, ada beberapa komentar yang saya sependapat.

Problematika Karyawan di Indonesia
Salah satu komentar postingan judul di atas

Yap, istilah the right man in the right place itu memang berlaku. Menempatkan seseorang sesuai keahliannya memang diperlukan. Sayangnya, di lapangan tidak seperti itu. Sangat jauh dari teorika yang pernah dilahap selama ini.

Saya tahu, cukup mengerti apa yang membuat si Mbak Mawar ini dipandang seperti itu oleh yang memosting jawaban. Padahal, saya yakin, Mbak Mawar ini punya kompetensi terpendam yang tidak bisa dieksplorasikan karena keterbatasan dalam kepribadian si Mbak Mawar ini. Saya pun demikian, jika sendirian lebih optimal mengerjakan sesuai SOP. Dan hal ini yang membuat saya frustasi hingga sekarang untuk menentukan jurusan kuliah saya selanjutnya ๐Ÿ™

Balik ke topik, secara keseluruhan, manusia memiliki keterbatasan juga kelebihan. Seandainya mereka ditempatkan yang sesuai dengan keahlian serta kepribadian mereka, maka saya berani jamin mereka dapat lebih memberikan kontribusi dan aktif untuk survive dalam pekerjaanya. Judge yang ditorengkan oleh penulis bahwa Mbak Mawar bukan orang yang kompeten menurut saya itu kurang tepat. Bukan dia tidak kompeten, melainkan karena dia hanya salah tempat saja. Ditambah jika rekan kerjanya memandang dia orang yang tidak kompeten dari awal, maka secara tidak sadar, hal itu akan benar-benar muncul dalam diri Mbak Mawar. Istilah dalam teori adalah labelling.

Hal itulah yang selama ini saya pribadi amati. Sesak dada, sesak jiwa karena banyak yang yang beropini demikian. Mereka kesulitan bersuara karena kepribadian mereka yang bertolak belakang dengan lingkungan yang mereka hadapi. Mereka ingin bertahan, mereka ingin belajar, mereka berkemauan mempelajari hal baru, tetapi sayangnya lingkungan tidak mendukung hal itu.

Resign atau Bertahan?

Inilah yang pernah saya pikirkan, pernah pula saya tanyakan dan akhirnya dijawab oleh rekan-rekan saya di LinkedIn. Setidaknya memang butuh pertimbangan matang sebelum memutuskan keluar. Ditambah jika beban hidup dan kesulitan mendapat kerja di masa tertentu menjadi tantangan kala itu. Sama seperti yang saya hadapi sekarang. Saya ingin resign, tetapi tidak begitu saja bisa saya lakukan. Orang tua saya pasti akan marah-marah, atau bahkan memaki-maki saya. Selain itu, jika saya resign, saya juga tidak tahu harus melakukan apa. Pendaftaran kuliah juga telah lewat beberapa minggu lalu. ๐Ÿ™

Tentunya, jawaban sederhana tetapnya Bertahan. Ditambah jika kita bekerja lalu resign sebelum satu tahun, hal ini akan menjadi pertanyaan lanjutan mengenai loyalitas saat kita melamar kerja di sebuah perusahaan baru. Tentunya hal ini tidak kita harapkan!

Lalu Bagaimana? Bertahan disana sama saja kita bunuh diri di tempat secara perlahan, bukan?

Ya, saya tidak menyalahkannya. Jika kita memilih bertahan, maka kita harus bersiap dan tahan banting dengan tekanan batin dan tangisan setiap saat sendirian. Ditambah jika kita adalah orang dengan kepribadian yang introvert.

Saya sendiri pun hingga sekarang masih sering mengutuk diri sendiri, menangis saat sendiri karena kekurangan saya itu. Kekurangan yang membuat saya dibenci oleh banyak orang. Meskipun dalam diri saya sama sekali tidak ada niatan. Karena memang sudah dari sananya seperti itu. Ketidakpekaan dan raut wajah yang sering disalahartikan, menjadi tantangan bagi saya.

Kita juga harus bersiap menjadi kaum minoritas, tanpa satu pun orang di sisi kita. Harus siap dengan cibiran, nistaan, kadang juga sindiran, serta yang paling penting harus siap menjadi seseorang yang tidak dianggap.

Sakit? Ya, tapi kita mau bercerita pada siapa? Mau percaya pada siapa? Semua di tempat kerja sama-sama memiliki bibir dua, muka tebal hingga saya tak mampu membedakan dia itu siapa.

Cara Saya menghadapi Lingkungan Kerja yang Toxic

Saya perlahan sadar, sudah! Saya kerja, niat kerja, dapat uang, cukup! Masalah mereka itu suka atau tidak, toh yang bayar gaji saya bukan mereka, tapi atasan saya.

Hati dingin dapat menjadi pilihan

Ya, saya sudah lelah menjadi orang baik dengan semua itu. Menangis karena ulah mereka juga tidka berguna. Daripada memikirkannya, lebih baik saya pikirkan hal lain yang dapat menunjang hidup saya. Opini orang selalu saya, tidak berguna!

Baca Juga: Cara Bersikap Bodoh Amat

Caranya menghadapi lingkungan kerja yang toxic?

Jadilah orang yang dingin, tidak usah pedulikan kata-kata mereka. Putar otak supaya kalian tidak dinista. Bantu secukupnya, jangan jadi budak yang tidak berguna.

Pulang kerja, sibukkan dirimu dengan hal berguna. Lakukan hal yang kamu suka, lakukan investasi untuk masa mendatang. Investasi banyak ragamnya:

  1. Olahraga (Investasi Kesehatan)
  2. Traveling dan jalan-jalan
  3. Vlongging dan blogging (Investasi konten untuk cari uang)
  4. Belajar (Untuk yang fokus kuliah dan banyak tujuan di masa depan)
  5. Menulis buku, menulis artikel di media massa
  6. dkk

Intinya, lakukan hal lain yang mendatangkan manfaat untuk dirimu. Daripada waktu menangis tidak berguna hanya menangisi karena ulah mereka, yang membuatmu adu domba dengan perasaan dan hati, mending bikin sesuatu yang berharga. Lakukan sesuatu dan hobi yang kamu suka!

Sibukkan dirimu, hingga kamu tidak punya waktu untuk memikirkan mereka.

Inilah Caraku

Jika di lingkungan pekerjaan, bodohi dirimu. Jadilah orang yang tega! Jadilah orang yang dingin! Jadilah hati yang tidak tahu ampun!

Kenapa harus merasa bersalah? Bukankah mereka yang memulai semuanya?

Salah? Tidak. Inilah caramu untuk bersikap baik-baik saja. Jika tidak begitu, maka kamu akan kehilangannya. Disamping itu, berdoalah! Semoga Tuhan mengganti rekan kerjamu lebih baik. Lakukan setiap hari!

Bersikaplah lebih keras pada dunia, maka dunia akan tampak lebih lembut padamu!

Terkadang, pernyataan Joker, “Orang yang jahat terlahir dari orang baik yang tersakiti.”

Saya merasa pernyataan itu memang benar, dan memang menguatkan dirimu untuk menghadapi kenyataan. Namun, saya tidak menyarankan untuk kamu menjadi orang jahat. Kamu hanya perlu menjadi orang yang dingin, hanya untuk menghadapi rekan-rekan kerjamu yang memperlakukan kamu seperti itu.

Cara menghadapi lingkungan kerja yang toxic memang tidak mudah. Namun, jika anda memilih resign dalam beberapa bulan, artinya anda kalah. Jika tidak ada alasan mendesak apapun, anda resign karena lingkungan kerja yang toxic, rekan kerja yang sikapnya seperti setan dari mata anda, jangan mau kalah!

Mereka kejam, anda harus lebih kejam!

Itulah cara saya bertahan. Menipu diri sendiri memang diperlukan. Sakit hati tidak diperlukan untuk menghadapi orang-orang semacam mereka.

###Hastag###

Cara menghadapi lingkungan kerja yang Toxic, Menghadapi lingkungan Kerja yang Toxic, Cara menghadapi lingkungan kerja yang tidak nyaman, Cara menghadapi lingkungan kerja yang tidak kondusif, menghadapi lingkungan kerja yang toxic.