Jenis-jenis phobia yang ada di dunia ini semakin beragam. Awal mula phobia hanya ada beberapa macam yang umum diketahui, salah satunya Acrophobia; takut berlebihan pada ketinggian.

Dalam artikel 10 Jenis Gangguan Mental yang Diakui WHO, phobia didefinisikan sebagai  rasa takut yang berlebihan dan berkepanjangan lebih dari enam bulan.

Ada hal yang menarik saat saya sedang menelurusi beberapa referensi terkait phobia. Dulu saya tidak menyadari jika rasa takut dengan hewan kecil juga termasuk phobia. Hal ini pun semakin menarik perhatian saya.

Saya dulu memiliki seorang teman yang memiliki rasa takut berlebihan dengan cacing. Bahkan, melihat gambarnya saja dia sudah ogah-ogahan. Saya tidak menyangka apabila rasa takutnya tersebut dapat dikategorikan sebagai jenis phobia, yakni scoleciphobia.

Phobia ini dapat dikatakan sebagai penghambat kehidupan seseorang. Ditambah apabila rasa takutnya melebihi frekuensi normal umumnya orang. Yang ingin saya katakan adalah seperti teman saya tersebut. Sebab itulah, saya membahasnya sekarang.

Sebenarnya, Apa sih Penyebab Phobia?

Bagi sebagian orang, khususnya penderita fobia mungkin akan sangat sulit dimengerti. Hal ini disebabkan perbedaan pandangan antara penderita dan orang-orang yag memandangnya.

Lalu, bagaimana seorang penderita melihat ketakutannya?

Pengamat phobia menggunakan bahasa logika sementara seorang pengidap phobia biasanya menggunakan bahasa rasa. Bagi pengamat dirasa lucu jika seseorang berbadan besar, takut dengan hewan kecil seperti kecoa atau tikus. Sementara itu, bagi pengidap phobia, hewan-hewan yang dirasa kecil bagi orang lain, di mata mereka tampak sangat besar, menakutkan, dan sangat menjijikkan.

Dalam otak manusia, ada semacam senyawa yang bertugas mengendalikan rasa takut. Senyawa itu dikenal dengan nama Amygdala. Normalnya orang dapat mengendalikan rasa takutnya.

Namun, ada peristiwa unik dimana seseorang mengalami kejadian yang memaksanya terpapar dengan suatu objek dalam rentang waktu yang lama. Hal inilah yang kemudian memicu terjadinya fiksasi dalam pikiran seseorang. Penyebab terjadinya fiksasi juga dapat disebabkan oleh kejadian ekstrem yang pernah dialami seseorang, seperti terjebak lift, serangan bom saat perang, digigit ular, dan sebagainya.

Fiksasi adalah keadaan terkuncinya mental seseorang dengan sebuah hal yang menjadi sugestasi terbesar dalam otaknya

Seseorang yang pertumbuhan mentalnya mengalami fiksasi akan memiliki kesulitan emosi (mental blocks) dikemudian harinya. Hal tersebut dikarenakan orang tersebut tidak memiliki saluran pelepasan emosi (katarsis) yang tepat. Setiap kali orang tersebut berinteraksi dengan sumber phobia secara otomatis akan merasa cemas.

Dan agar “nyaman” maka cara yang paling mudah dan cepat adalah dengan cara “mundur kembali”/ regresi kepada keadaan fiksasi. Kecemasan yang tidak diatasi seawal mungkin berpotensi menimbulkan akumulasi emosi negatif yang secara terus menerus ditekan kembali ke bawah sadar (represi).

Pola respon negatif tersebut dapat berkembang terhadap subjek subjek phobia lainnya dan intensitasnya semakin meningkat. Walaupun terlihat sepele, “pola” respon tersebut akan dipakai terus menerus untuk merespon masalah lainnya. Itu sebabnya seseorang penderita fobia menjadi semakin rentan dan semakin tidak produktif.

Penyebab Spesifik

Phobia atau yang dalam bahasa Indonesia lebih umum disebut fobia sesungguhnya tidak memiliki penyebab tunggal yang spesifik. Namun, beberapa ahli kejiwaan membagi beberapa indikator yang dapat menyebabkan seseorang mengalami fobia.

1. Pengalaman Traumatis

Tidak dipungkiri, seseorang dapat mengalami phobia dari pengalaman yang mmebuatnya trauma. Mudahnya, ketika kamu mengalami sesuatu kejadian yang sangat tidak menyenangkan dan tidak bisa kamu lupakan hingga berujung pada ketakutan.

Otak kamu akan membuat asosiasi dengan satu objek atau peristiwa yang berakitan di masa depan, sehingga muncul identifikasi pada diri sendiri, saya takut dengan hal itu.

Data penelitian Badan Kesehatan Mental London mengungkapkan bahwa pengalaman trauma mendominasi penyebab seseorang mengalami phobia.

Misal, di masa kecil, kamu pernah tergigit ular hingga hampir meninggal. Kamu mengalami trauma sebab kejadian tidak menyenangkan itu. Otak kamu akan membuat identifikasi berbentuk trauma, sehingga kamu tidak ingin dekat-dekat dengan objek itu.

Jika secara tidak sengaja kamu bertemu dengan objek itu, otak akan mengelurkan respon berupa rasa takut yang berlebihan akibat trauma yang telah kamu alami.

2. Perilaku yang Dipelajari

Phobia rupanya juga dapat terjadi dengan kamu mempelajari. Dengan catatan hal ini diluar kesadaran kamu. Sebagai contoh, kamu tinggal di lingkungan keluarga yang memiliki ketakutan khusus, gangguan kecemasan berlebihan terhadap sesuatu.

Meskipun kamu awalnya tidak memilki rasa takut akan suatu hal, otak kamu akan berpikir sebaliknya sebab melihat orang-orang di sekitarmy. Sebab kebiasaan masa kecil yang umum meniru perilaku seseorang di sekelilingnya.

3. Genetika

Phobia yang diakibatkan karena turunan. Belum ada catatan lebih mengenai hal ini. Phobia sendiri memiliki alel yang tidak terpaut dengan genosom atau kromosom. Namun, beberapa penelitian mengangkat bahwa genetik dapat menjadi salah satu penyebab seseorang mengalami phobia.

4. Respon Takut dari Stres

Stres yang sedang berlangsung – dalam jangka panjang, stres dapat menyebabkan perasaan cemas, depresi dan ketidakmampuan untuk mengatasi situasi tertentu, yang dapat berkembang menjadi phobia.

Lalu, Apa saja 115+ Jenis Phobia yang Jarang Diketahui?

jenis phobia unik

Beberapa orang mungkin sudah tidak asing lagi dengan istilah ini. Namun, tahukah kamu bahwa phobia ini masih dibagi kembali menjadi beberapa cabang di bawahnya. Sesuai dengan objek yang menjadi alasan ketakutan seseorang, dunia telah membaginya menjadi 115+ daftar Phobia yang telah ada di dunia.

  1. Achievemephobia – jenis phobia dimana orang takut dengan kesuksesan
  2. Achondroplasiaphobia – jenis phobia dimana orang takut dengan sesuatu yang sangat kecil
  3. Acrophobia – rasa takut dengan ketinggian
  4. Aerophobia – rasa takut pada saat terbang (saat di pesawat terbang atau balon udara)
  5. Afrophobia – rasa takut dengan dengan bangsa Afrika
  6. Agliophobia – rasa takut dengan rasa sakit
  7. Agoraphobia – rasa takut dengan ruang terbuka yang ramai
  8. Ailurophobia – rasa takut dengan kuning
  9. Alektorophobia – Ketakutan dengan ayam
  10. Allodoxaphobia – rasa takut akan pendapat orang lain
  11. Anatidaephobia – rasa takut dengan bebek
  12. Androphobia – rasa takut dengan laki-laki
  13. Anthropophobia – rasa takut bertemu dengan orang-orang
  14. Antlophobia – Jenis phobia dimana orang takut dengan banjir
  15. Aphenphosmphobia – rasa takut dengan keintiman
  16. Apiphobia – rasa takut dengan lebah
  17. Aquaphobia – rasa takut dengan air
  18. Arachnophobia – rasa takut dengan laba-laba
  19. Astraphobia – rasa takut dengan kilat atau guntur. Juga memiliki nama lain: Brontophobia, Tonitrophobia, Ceraunophobia.
  20. Athazagoraphobia – rasa takut akan terlupakan atau tidak mengingat sesuatu
  21. Atychiphobia – rasa takut dengan kegagalan
  22. Autophobia – rasa takut akan ditinggalkan seseorang
  23. Bananaphobia – rasa takut dengan pisang
  24. Basiphobia – rasa takut terjatuh
  25. Bathophobia – rasa takut dengan kedalaman atau bisa terkait dengan sesuatu yang dalam (Jurang, palung, gua, terowongan)
  26. Bibliophobia – rasa takut dengan buku
  27. Cacomorphobia – rasa takut dengan orang-orang gemuk
  28. Carcinophobia – rasa takut dengan kepiting
  29. Catoptrophobia – rasa takut dengan cermin
  30. Chaetophobia – rasa takut dengan rambut
  31. Claustrophobia – rasa takut dengan ruang yang kecil, seperti lift, ruangan mini, dan ruang lain yang sejenis
  32. Cibophobia – rasa takut dengan makanan
  33. Chronophobia – rasa takut dengan masa depan
  34. Chorophobia – rasa takut berdansa
  35. Chrometophobia atau Chrematophobia – rasa takut dengan uang
  36. Coasterphobia – rasa takut dengan rollercoaster
  37. Coulrophobia – rasa takut dengan badut
  38. Contreltophobia – rasa takut dengan pelecehan seksual
  39. Coprastasophobia – rasa takut dengan konstipasi (Sembelit)
  40. Cynophobia – rasa takut dengan anjing
  41. Dendrophobia – Jenis phobia dimana orang takut dengan pohon
  42. Didaskaleinophobia – rasa takut dengan sekolah
  43. Disposophobia – rasa takut menyingkirkan barang-barang yang menimbulkan penimbunan ekstrem
  44. Dystychiphobia – rasa takut dengan kecelakaan
  45. Ecclesiophobia – Jenis phobia dimana orang takut dengan gereja
  46. Emetophobia – rasa takut muntah atau takut kehilangan kendali diri sendiri
  47. Enochlophobia – rasa takut dengan keramaian, hampir sama dengan Ochlophobia dan Demophobia.
  48. Entomophobia – rasa takut dengan serangga, juga berkaitan dengan Acarophobia
  49. Equinophobia – rasa takut dengan kuda
  50. Ergophobia – ketakutan akan bekerja
  51. Galeophobia – rasa takut bahwa hiu yang ada di laut kemunginan juga ada di kolam renang
  52. Gamophobia – rasa takut dengan komitmen atau bertahan dengan seseorang sampai akhir
  53. Gephyrophobia – Ras atakut dengan jembatan atau dengan tempat penyebrangan meskipun jembatan kecil
  54. Gerascophobia – rasa takut menua
  55. Globophobia – rasa takut dengan balon
  56. Glossophobia – rasa takut berbicara di depan umum (public speaking)
  57. Genuphobia – Jenis phobia dimana orang takut dengan lutut
  58. Gynophobia – rasa takut dengan wanita
  59. Hemophobia – rasa takut dengan darah
  60. Hippopotomonstrosesquippedaliophobia – rasa takut dengan kalimat panjang
  61. Hexakosioihexekontahexafobia – Jenis phobia dimana orang takut dengan angka 666 (Bilangan setan)
  62. Iatrophobia – rasa takut dengan dokter
  63. Ichthyophobia – rasa takut dengan ikan
  64. Japanophobia – Jenis phobia dimana orang takut dengan orang Jepang
  65. Katsaridaphobia – rasa takut dengan kecoa
  66. Kinemortophobia – rasa takut dengan zombie
  67. Koumpounophobia – rasa takut dengan tombol
  68. Lachanophobia – Jenis phobia dimana orang takut dengan sayur-sayuran
  69. Lepidopterophobia – rasa takut dengan kupu-kupu atau serangga yang memiliki sayap
  70. Ligyrophobia – rasa takut dengan suara keras
  71. Monophobia – rasa takut dengan kesendirian
  72. Mottephobia – rasa takut dengan ngengat
  73. Musophobia – rasa takut dengan tikus
  74. Myrmecophobia – rasa takut dengan semut
  75. Mysophobia – rasa takut dengan mikroorganisme, disebut juga Germophobia atau Bacterophobia
  76. Metathesiophobia – rasa takut dengan perubahan
  77. Nomophobia – Jenis phobia dimana orang takut atau merasa gelisah ketika tidak memegang smartphone
  78. Nosocomephobia – rasa takut dengan rumah sakit
  79. Numerophobia – rasa takut dengan angka atau memikirkan perhitungan
  80. Nyctophobia – rasa takut dengan kegelapan
  81. Ombrophobia – rasa takut dengan hujan
  82. Omphalophobia – rasa takut dengan pusar
  83. Ophidiophobia – rasa takut dengan ular
  84. Ornithophobia – rasa takut dengan burung
  85. Panophobia – rasa takut dengan segala hal buruk yang akan terjadi
  86. Paraskevidekatriaphobia – Jenis phobia dimana orang takut dengan hari Jumat di tanggal 13
  87. Pediophobia – Jenis phobia dimana orang takut dengan boneka
  88. Phasmophobia atau Spectrophobia – Jenis phobia dimana orang takut dengan hantu
  89. Philophobia – Jenis phobia dimana orang takut dengan cinta
  90. Phobophobia – Jenis phobia dimana orang takut dengan rasa takut
  91. Photophobia – rasa dengan cahaya, bisa disebabkan karena medis atau trauma
  92. Podophobia – rasa takut dengan kaki. Beberapa orang bisa takut melihat atau menyentuh kaki, meskipun kakinya sendiri.
  93. Pogonophobia – rasa takut dengan jenggot atau dikelilingi pria yang berjenggot
  94. Pseudodysphagia – rasa takut karena tersedak setelah pengalaman makan yang buruk
  95. Pyrophobia – rasa takut dengan api
  96. Ranidaphobia – Jenis phobia dimana orang takut katak
  97. Samhainophobia – rasatakut dengan halloween yang memengaruhi anak-anak dan orang-orang yang percaya takhayul
  98. Scelerophobia – rasa takut dengan kejahatan, melibatkan dengan pencuri dan penjahat di tempat umum
  99. Scoleciphobia – rasa takut dengan cacing
  100. Sidonglobophobia – rasa takut dengan bola kapas atau plastik busa
  101. Somniphobia – Jenis phobia dimana orang takut tidur
  102. Spheksophobia – Jenis phobia dimana orang takut dengan tawon
  103. Taphophobia – Rasa takut berlebihan jika dikubur hidup-hidup karena kesalahan dan terbangun di peti mati di bawah tanah.
  104. Technophobia – Rasa takut dengan teknologi, termasuk perkembangan era dan budaya
  105. Telephonophobia – Jenis phobia dimana orang takut berbicara dengan telepon
  106. Thalassophobia – Jenis phobia dimana orang takut laut; air, ombak, dan ruang terbuka yang tidak diketahuinya
  107. Thanatophobia atau Necrophobia – Jenis phobia dimana orang takut dengan kematian
  108. Theophobia – Jenis phobia dimana orang takut Tuhan sebab ketakutan yang tidak rasional mengenai Tuhan atau agama
  109. Tokophobia – Jenis phobia dimana orang takut hamil, termasuk melahirkan dan memiliki anak
  110. Triskaidekaphobia – Jenis phobia dimana orang takut dengan angka 13 dan segala sesuatu yang tidak menyenangkan yang mengikutinya
  111. Trypanophobia – Jenis phobia dimana orang takut dengan jarum
  112. Trypophobia – Jenis phobia dimana orang takut dengan lubang yang banyak. Jenis phobia ini memang tidak biasa, tetapi cukup dikenal dalam dunia penyakit kejiwaan.
  113. Vehophobia – Jenis phobia dimana orang takut mengemudi
  114. Xanthophobia – Jenis phobia dimana orang takut dengan warna kuning
  115. Xenophobia – Jenis phobia dimana orang takut dengan sesuatu yang tidak diketahui
  116. Zoophobia – Jenis phobia dimana orang takut dengan binatang

Itulah 105 jenis phobia yang telah diidentifikasi dalam dunia ilmu kejiwaan. Kemungkinan di masa depan cabang phobia masih akan berkembang menurut data temuan terbaru.

Baca Juga: Raih Suksesmu dengan banyak Ilmu dan Usaha.

Beberapa cara unuk mengatasi phobia masih bergantung pada spesialis kejiwaan atau psikiater. Fobia yang berlebihan bukan masalah yang bisa diselesaikan sendiri. Apabila kamu menjumpai seseorang yang memiliki fobia, jangan menertawakannya. Dia membutuhkan dukungan untuk bisa melawan dan menrimanya. Dalam keadaan apapun, sebetulnya penderita fobia juga ingin sembuh dari fobianya.

Cara melawan rasa takut adalah dengan menghadapinya, bukan dengan menghindarinya

by. Omegarion